Sekolah Alam Hikari kini hadir dengan 2 konsep baru: Flexi School dan metode belajar musikalitas. Apakah Flexi School? Bagaimana belajar dengan metode musikalitas? Simak yuk ulasannya di bawah ini.
Hikari telah mendidik dan mengajar anak-anak usia 2,5 tahun sampai 7 tahun dengan cara ramah anak
selama 20 tahun berjalan. Anak belajar di luar kelas yang penuh dengan udara
segar, tiap sisi ruang kelas terbuka, dikelilingi oleh pohon-pohon yang dengan
setia memberikan oksigen (O2) kepada mahluk hidup di
sekelilingnya. Empat tahun terakhir Hikari mendidik dan mengajar
anak-anak dengan berbagai metode antara lain dengan musik sebagai pengiring
selama belajar dan bermain. Musik yang diperdengarkan melalui 2 buah pengeras suara
menemani murid beraktivitas, membuat mereka dengan senang hati menyelesaikan
tugas, bahkan pada beberapa kesempatan mereka dapat belajar berhitung sambil
bersenandung.
Yang menarik
saat ini, mulai tahun ajaran 2014-2015, Hikari tampil dengan new concept yaitu konsep sekolah
Flexi School. Jumlah kehadiran murid hanya tiga (3) kali seminggu, hal ini
dilakukan Hikari untuk memberikan kesempatan kepada orangtua dan orang dewasa lainnya
di rumah yang dipercaya orangtua murid seperti nenek dan kakek untuk
mengaplikasikan pelajaran dan pendidikan yang diperoleh oleh anak dari
sekolah.
Jadwal
kegiatan belajar di Hikari yang dimulai pukul 9:00 -12:00 WIB juga ditentukan
sesuai kebutuhan anak, mengingat mereka masih dalam masa pertumbuhan dan
memerlukan jam tidur yang cukup.
Metode
belajar utama di Hikari adalah musikalitas. Kenapa Musikalitas? Karena seperti
yang telah kami alami, baik guru, murid, maupun orang dewasa yang ikut dalam
kegiatan belajar merasa gembira dan bersemangat. Dan ternyata musik membantu
perkembangan otak, pembentukan jiwa dan karakter dan peningkatan motorik.
Penelitian Moore (2011) juga membuktikan bahwa musik juga meningkatkan memori
visual dan verbal, meningkatkan dan menjaga kemampuan pendengaran bahkan hingga
usia lanjut.
Kurikulum
yang digunakan Hikari adalah kurikulum 2013, yaitu kurikulum yang lebih
bersifat praktikal dan memaksimalkan semua penggunaan panca indera. Bahan
belajar menggunakan sumber alam semesta berdasarkan konsep reduce, reuse and
recycling. Anak-anak belajar dari sesuatu
yang “aku lihat”, “aku tahu”, “aku kenal”, dapat dirasakan dengan kulit,
dilihat dengan mata, dicium dengan hidung, dicicipi dengan lidah, dan didengar
dengan telinga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar